Minggu, Oktober 2, 2022
spot_img

Warga Tolak Hotel Silk di Dago Kota Bandung Dijadikan Tempat Isolasi

BerandaHeadlineWarga Tolak Hotel Silk di Dago Kota Bandung Dijadikan Tempat Isolasi
BANDUNG – Hotel Silk di daerah Dago Kecamatan Coblong direncanakan menjadi rumah singgah atau ruang isolasi terpadu, sayangnya warga sekitar mengaku menolaknya.
Salah seorang warga Lukman Nugraha mengaku penolakan karena pemerintah kota Bandung tidak melakukan sosialisasi terlebih dulu. Sehingga negosiasi yang saat ini tengah dilakukan kemungkinan tetap ditolak.
Menurutnya posisi hotel atau bakal rumah singgah itu berdampingan dengan rumah warga dan di belakangnya tempat berkumpul warga terutama anak kecil
“Belum digunakan karena ada penolak, awalnya tidak ada koordinasi dengan pengurus setempat dan masyarakat. Tiba tiba ada kabar akan dijadikan tempat singgah, setidaknya ada sosialisasi dulu dan di tinjau dulu lah bagaimana layak tidak,” ucap Lukman saat dihubungi.
Lanjutnya tempat itu akan digunakan per Februari ini hanya saja karena ada respon penolakan dari masyarakat sampai saat ini hotel tersebut belum beroperasional.
Warga sendiri kata Lukman inginnya terlebih dulu ada sosialisasi atau peninjauan dulu.
“Ini kok tiba-tiba ada informasi itu, tetapi saat menanyakan ke RW dan RT setempat tidak ada info itu,” papar warga RW 06 itu.
Disinggung rasa kemanusian untuk memperbolehkan wilayahnya menjadi rumah singgah bagi pasien covid-19, Lukman mengaku itu bisa dilakukan dengan catatan pemerintah pun memperlakukan warga tersebut dengan baik yaini dengan terlebih dulu melakukan sosialisasi dan peninjuan apakah tempat tersebut layak untuk rumah singgah atau tidak.
Saat ini kata Lukman di wilayah kelurahannya tepatnya RW 05 sudah ada rumah singgah. Namun ia tidak bisa memastikan rumah tersebut sudah digunakan atau tidak.
Ditemui di balai kota Sekertaris Daerah Ema Sumarna mengaku rencana hotel itu menjadi rumah singgah saat ini sedang dalam tahap negosiasi.
“Sedang berjalan, cuma begini ya kita jangan termakan pemikiran pemikiran yang dalam tanda petik bisa menyesatkan misalnya virus ini terbang diudara gitu kan, ada rasa ketakutan yang tidak rasional. Saya pikir hal ini kan harus ditekan yang begitu itu, karena ini untuk kepentingan bersama, karena bisa dibayangkan kita sudah memiliki rencana target lokasi dan semua menolak kemudian itu tidak bisa dilaksanakan kemudian kasus meningkat kita butuh tempat itu terus yang nanti apa kita harus saling menyalahkan kan tidak harus begitu,” beber Ema.
Jika sudah ada kesepakatan, kata Ema hotel tersebut dipastikan akan digunakan.
“Ya kan kita begini ada peribahasa sedia payung sebelum hujan, dari pada nanti kasus meledak kemudian kita tidak siap, seperti sekarang tempat isoman kecamatan itu terlepas dipakai atau tidak yang penting lokasi sudah ada, preventif artinya. Tempat ada tetapi tidak terpakai, berarti kasus terkendali orang tidak banyak terpapar covid,” jelasnya.
“Ya kalau dengan masyarakatnya belum clear ya gimana kita akan melakukan perikatan, gak mungkin lah. Itu tetap dilakukan dan kita pun mencari tempat alternatif lain, makanya kami sering mengatakan kalau berbicara tempat yang begini kita kan tidak vulgar ya, karena seperti itu begitu kita nyatakan ada tempat di anu sebutkan lokasinya kemudian masuk mohon maaf ya, orang yang ingin memanfaatkan misalnya kepada masyarakat disana semangatnya menolak kan celaka,” ungkapnya lagi.
Ema pun bersikukuh bahwa negosiasi saat ini sedang  berjalan.
“Negosiasi berjalan, kemudian kita menutup kan gimana logikanya. Ah sekarang begini kalau tidak ada komunikasi dan negosiasi dari mana dasarnya menolak ya, artinya proses penolakan itu kan komunikasi berjalan cuma belum ada dalam konteks sepemahaman kan begitu saya kira itu mah teori umum ya,” tutupnya.(kai)

Berita Terbaru