Minggu, Oktober 2, 2022
spot_img

Demi Kualitas Air Lebih Baik, Perumda Tirtawening Babak Belur

BerandaHeadlineDemi Kualitas Air Lebih Baik, Perumda Tirtawening Babak Belur
BANDUNG РAir merupakan kebutuhan pokok bagi manusia namun sayangnya kualitas air baku kini terus mengalami penurunan. Seperti disampaikan Direktur Utama Perumda Tirtawening Kota Bandung Sonny Salimi air baku dari sungai Cikapundung yang diolahnya di Taman Hutan Raya Dago Pakar  kualitasnya menurun.
Kata Sonny, sekitar tahun 90 hingga tahun 2000 an air disana, meski tak jernih tapi hanya berwarna cokelat akibat erosi tanah. Tetapi kini air disana berwarna keruh hijau kegelapan, berbuih, berbusa dan berbau.
Akibatnya produksi penjernih air yang dilakukan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirtawening menjadi 5 kali lipat alias babak belur. Dari semula penggunaan bahan kimia Poly Aluminium Chloride (PAC) 600 kg- 1 ton menjadi 3 – 5 ton perhari.
Sonny mencontohkan, misal harga PAC dulu Rp4000 per kilo dan dalam satu hari Perumda cukup mengeluarkan kocek Rp4 juta untuk 1 ton PAC namun kini penggunaan PAC 3-5 ton artinya harus mengeluarkan kocek sekitar Rp20 juta per hari.
“Tahun 90-2000 an saya pernah jadi operator di Dago Pakar air gak begitu kotor. Penyebabnya kita belum tahu, apakah itu akibat limbah masyarakat atau limbah peternakan,” ucap Sonny.
Masih kata Sonny, kotornya air disana terjadi mulai pukul 09.00 – 21.00 WIB sehingga tidak ada peluang bagi perumda untuk menyerap air bersih disana seperti dulu.
Sonny mengaku khawatir air baku di lokasi yang dibangun tahun 1980 itu jadi tercemar hingga berdampak terhadap kesehatan masyarakat sekitar, terutama bagi 60 ribu pelanggan perumda. Selain itu dampak bagi perumda sendiri biaya produksi jadi berlipat lipat.
Pengguna PAC yang berlipat mengakibatkan banyaknya endapan dan lumpur, membuat penyemprotan dan pembersihan instlasi harus dilakukan sesering mungkin. Sedang untuk penyemprotan itu membutuhkan tekanan listrik yang otomatis beban penggunaan listrik pun menjadi meningkat.
Selain sungai Cikapundung hal serupa terjadi di sungai Cibeureum yang berada di sekitar Ledeng Sersan Bajuri. Disana pun air keruh berwarna, berbuih dan berbau.
“Sudah sering menyampaikan kepada DLH provinsi ataupun BBWS namun hingga kini saya belum menerima informasi apakah ditindak lanjuti atau tidak. Namun faktanya ya demikian,” tandasnya.
Kendati demikian Sonny menjamin kualitas air yang didistribusikan ke pelanggan tetap bagus. Karena, sesuai arahan Kementerian Kesehatan air yang dihasilkan selalu melalui hasil uji tes fisik, kimia dan bakterilogis lengkap.(kai/ad)

Berita Terbaru