Rabu, Oktober 5, 2022
spot_img

Pemkot Bekasi Keluarkan Panduan Beribadah Selama Ramadan

BerandaKota BekasiPemkot Bekasi Keluarkan Panduan Beribadah Selama Ramadan

KOTA BEKASI – Berkenaan dengan pelaksanaan rangkaian ibadah ramadan dan Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriyah dalam suasana antisipasi dan pencegahan pandemi virus Corona (Covid-19) di masyarakat, Pemerintah Kota Bekasi menerbitkan panduan yang memenuhi aspek ibadah sekaligus juga aspek kesehatan.

Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah Kota Bekasi mengeluarkan Surat Edaran nomor: 451/2922-SETDA.Kessos tentang panduan ibadah ramadan dan Idul Fitri 1 Syawal 1442 H dimasa pandemi wabah Covid-19.

Surat Edaran ini dimaksudkan untuk memberikan panduan beribadah yang sejalan dengan syariat islam dan protokol kesehatan sekaligus mencegah, mengurangi penyebaran dan melindungi aparatur pemerintah serta masyarakat muslim dari resiko Covid-19 di wilayah Kota Bekasi.

Surat Edaran yang ditandatangani oleh Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, ditujukan kepada para Kepala OPD di Lingkungan Pemerintah Kota Bekasi, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bekasi, para tokoh masyarakat dan pemuka agama islam di Kota Bekasi dan para Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) se-Kota Bekasi berisikan tentang panduan pelaksanaan ibadah di tengah pandemi Covid-19, antara lain:

1. Umat Islam, kecuali bagi yang sakit atau alasan syari lainnya yang dapat dibenarkan, wajib menjalankan ibadah puasa di bulan ramadan sesuai hukum syariah dan tata cara ibadah yang ditentukan agama
2. Sahur dan buka puasa bersama dianjurkan dilakukan di rumah masing- masing bersama keluarga dan tidak perlu sahur on the road atau ifthar jama’i (buka puasa bersama)

3. Dalam hal kegiatan buka puasa bersama tetap dilaksanakan harus mematuhi pembatasan jumlah kehadiran paling banyak 50 persen dari kapasitas ruangan dan menghindari kerumunan

4. Pengurus masjid atau mushala dapat menyelenggarakan kegiatan ibadah, antara lain:
a. Salat fardhu lima waktu, salat tarawih dan witir, tadarus Alquran dan itikaf dengan pembatasan jumlah kehadiran paling banyak 50 persen dari kapasitas masjid atau mushala dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, menjaga jarak aman minimal 60 sentimeter antar jamaah, dan setiap jamaah membawa sajadah atau mukena masing-masing
b. Pengajian atau ceramah atau taushiyah atau kultum ramadan dan kuliah shubuh paling lama dengan durasi waktu 15 menit
c. Peringatan Nuzulul Quran di masjid atau mushala dilaksanakan dengan pembatasan jumlah audiens paling banyak 50 persen dari kapasitas ruangan dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat

5. Pengurus dan pengelola masjid atau mushala sebagnimana angka 4 wajib menunjuk petugas untuk memastikan penerapan protokol kesehatan dan mengumumkan kepada seluruh jamaah, seperti melakukan disinfektan secara teratur, menyediakan sarana cuci tangan di pintu masuk masjid atau mushala, menggunakan masker, menjaga jaruk aman dan setiap jamaah membawa sajadah atau ukena masing-masing

6. Peringatan Nuzulul Qur’an yang diadakan di dalam maupun diluar gedung, wajib memperhatikan protokol kesehatan secara ketat dan jumlah audiens paling banyak 50 persen dari kapasitas tempat atau lapangan

7. Vaksinasi Covid-19 dapat dilakukan di bulan ramadan berpedoman pada fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 13 tahun 2021 tentang Hukum Vaksinasi Covid-19 saat berpuasa dan hasil ketetapan fatwa Ormas Islam lainnya

8. Kegiatan pengumpulan dan penyaluran zakat, infaq dan sgadaqah (ZIS) serta zakat fitrah oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan dan menghindari kerumunan massa

9. Dalam penyelenggaraan ibadah dan dakwah di bulan ramadan, segenap umat islam dan para mubaligh atau penceramah agama agar menjaga ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah serta tidak mempertentangkan masalah khilafiyah yang dapat mengganggu persatuan umat

10. Para mubaligh atau penceramah agama diharapkan berperan memperkuat nilai-nilai keimanan, ketakwaan, akhlaqul karimah, kemaslahatan umat dan nilai- nilai kebangsaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui bahasa dakwah yang tepat dan bijak sesuai tuntunan Alquran dan As Sunnah

11. Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1442 H/2021 dapat dilaksanakan di masjid atau di lapangan terbuka dengan memperhatikan protokol kesehatan secara ketat, kecuali jika perkembangan Covid-19 semakin negatif (mengalami peningkatan) berdasarkan pengumuman Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 untuk seluruh wilayah negeri atau Pemerintah Daerah di daerahnya masing-masing.

12. Penyelenggaraan kegiatan ibadah ramadan, seperti halnya salat tarawih dan salat Idul Fitri tahun 2021/1442 H dapat dilaksanakan bagi wilayah yang dinyatakan zona hijau dan tetap menerapkan protokol kesehatan serta jarak antar jamaah 60 sentimeter dan bagi wilayah yang masih dinyatakan zona kuning boleh dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan lebih ketat, jarak antar jamaah 120 sentimeter dengan menunjuk tim petugas untuk memastikan penerapan protokol kesehatan secara ketat

13. Pelaksanaan kegiatan salat tarawih dan salat Idul Fitri Tahun 2021/1442 H dihimbau untuk tidak mengundang imam dan khotib dari luar daerah, tetapi menugaskan para guru agama dan dai setempat dengan penyampaian ceramah dan dakwah yang bisa merekatkan rasa kesatuan dan persatuan antar umat
14. Kegiatan silaturrahim atau halal bihalal pasca ibadah salat Idul Fitri tahun 2021 M/1442 H dapat dilakukan dengan menggunakan media elektronik untuk menghindari adanya kontak fisik dan potensi kerumunan.(Ad/gir)

Berita Terbaru