Senin, September 26, 2022
spot_img

Ketua Umum AKAR Sebut Aksi Gan Bondilie Sebagai Pahlawan UMKM

BerandaDaerahKetua Umum AKAR Sebut Aksi Gan Bondilie Sebagai Pahlawan UMKM

BANDUNG – Ketua Umum Asosiasi Kafe dan Restauran (AKAR) Arief Maulana, menyebut pelaku aksi menyakiti diri sendiri Gan Bondilie (39) sebagai pahlawan pembela Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Namun Arief kecewa dan tidak membenarkan aksi yang dilakukan Gan Bondilie alias Bonbon terbilang nekat dan konyol karena melukai diri sendiri bahkan hingga bertaruh nyawa.

“Pengorbanan kang bonbon pahlawan untuk UMKM, namun kami tidak membenarkan. Aksi itu hanya untuk menarik perhatian pemerintah saja,” ucap Arief pada zoom meeting bersama wartawan dan pengurus dan anggota PHRI se Jawa Barat, Kamis (5/8/2021) petang.

Kata Arief, aksi Bonbon sebagai bentuk kekecewaan ia terhadap pemerintah pusat.

“Seharusnya kota Bandung sudah tidak berada di level 4 hanya berada di wilayah aglomerasi. Dan kami tahu Pemkot sudah menyampaikan aspirasi kami ke menteri pariwisata tapi sepertinya tidak ditanggapi,” ucap Arief.

Arief pun menyampaikan bahwa Bonbon tidak mengalami depresi ataupun masalah finansial bahkan dia memiliki 7 cabang usaha makanan peempek salah satunya di Palembang. Sehingga aksi itu dilakukan sebagai bentuk membantu bukan hanya membela pengusaha restoran ataupun hotel namun juga bagi pelaku UMKM yang didampinginya.

Terkait pemasangan bendera putih pun kata Arief bukan berati menyerah namun sebagai bentuk meminta pertolongan kepada pemerintah agar usaha mereka diperhatikan.

“Dia orang yang komit, itu mencari perhatian bisa sampai ke pusat, Pemkot Bandung sendiri sudah banyak berharap bisa longgar hanya saja level 4. Akar sendiri sudah ok sudah ada kesepakatan tidak memasang bendera putih, jadi kalau harus ada psikiater untuk kawan kami saya rasa gak ke arah sana, ini perjuangan,” tandasnya.

Bonbon sendiri kata Arief kondisinya kini stabil dan terus membaik, ia mendapat 3 kali jahitan di leher sebelah kiri dan beberapa jahitan diperut bagian kanan.

“Kota Bandung tidak berani melanggar yang di instruksikan pusat, tidak bisa diskresi, disitulah penyebabnya. Tidak ada bisikan gaib hanya ada bisikan tagihan bank,” tuturnya.

Arief menyayangkan selama ini penindakan dilakukan Satgas Penanganan Covid-19 diantaranya Satpol-PP selalu berkerumun dan melanggar prokes. Sedang pelaku usaha yang justeru melakukan prokes ditindak, didenda bahkan disegel.

“Penindak kita ceng ngangas ceng ngenges, berkerumun tidak prokes. Pengunjung diusir, listrik dicabut. Kita dibatasi tapi pemerintah tidak ada melindungi rakyatnya. Aspirasi ini ke Pemkot Bandung tersampaikan. Bahkan pak Yana mau membela, pasang badan,” ungkapnya.

Kondisi karyawan resto dan kafe sendiri saat ini sudah 60-90% dirumahkan. Ia mencontohkan di daerah Sutami ada usaha merekrut 70 karyawan. Mereka bekerja dalam satu bulan 4 hari karena setiap hari bertukaran bekerja.

“Kerja 1 hari sekali jadi sebulan 4 hari, kebijakannya seenak perut, Akar juga membina PKL. Kita berpikir pemerintah ini mau meminimalisir atau mempermudah penyebaran. Karena kita yang ketat prokes malah tidak diperbolehkan, kalau di PKL makan aja pasti dempetan karena tempat tidak puas belum tempat cuci piring dalam satu ember gak ganti ganti,” gerutunya.(kai)

Berita Terbaru