Minggu, Oktober 2, 2022
spot_img

Dinas UMKM Atur Strategi Tingkatkan Perekonomian

BerandaKota BandungDinas UMKM Atur Strategi Tingkatkan Perekonomian

BANDUNG – Dinas Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kota Bandung mengaku pihaknya tidak terlalu banyak memberikan bantuan langsung kepada para pelaku UMKM terdampak pandemi. Bantuan yang diberikan hanya berupa Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) dari pusat sebesar Rp2,4 juta tahap 1 dan Rp1,2 tahap 2.

Begitupun keringanan yang diberikan bagi para pelaku UMKM mulai relaksasi kredit 1 tahun tidak harus bayar, kemudahan pinjaman, dan bagi pelaku UMKM tidak dikenakan pajak. Semua berdasarkan kebijakan pusat.

“Kami tidak ada bantuan khusus ya, semua bantuan hanya yang diberikan kementerian berbagai sektor salah satunya BPUM,” jelas Kepala Seksi Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha Mikro dan Fasilitasi pada Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KUKM), Nuri Nuraeni, Kamis (26/8/2021).

Disinggung soal BPUM tahap 3, Nuri mengaku belum bisa memastikan ada atau tidak hanya saja pihaknya belum membuka pendaftaran.

“Sekarang berlanjut masih proses pencairan BPUM tahap dua, sampai dengan maksimal November, tahun kemarin pun masih ada pencarian hingga Desember, jadi kami belum membuka tahap 3 dan tidak bisa mengatakan ada atau tidaknya,” ujarnya.

Sebagai informasi program bantuan dan pelatihan adalah bantuan pelaku usaha mikro di tahun 2020, diberikan pada 246 ribu pelaku usaha berdasarkan keputusan kementerian untuk tahap pertama 171 ribu dengan nominal Rp2,4 juta atau Rp410 miliar.

Dinas UMKM sendiri tahun ini mengusulkan 409.306 UMKM sampai Juni ini 301.135 pelaku usaha dapat Rp1,2 juta atau Rp361 miliar.

Lanjutnya per bulan Agustus 2021, di kota Bandung ada sebanyak 6400 UMKM yang dibina. Dari jumlah itu paling terdampak pandemi adalah usaha kuliner.

“Karena mereka tidak bisa berjualan terutama yang punya tempat tidak bisa berjualan, hasil survey rata-rata usahnya sangat menurun drastis dari PSBB sampai PPKM,” ujarnya.

Kendati ada relaksasi masih kata Nuri, penurunan omzet terutama kuliner masih terrasa saat penjual kuliner terbiasa offline dan makan di tempat menjadi tidak diizinkan. Sehingga berpengaruh pada harga.

Pembatasan orang masuk ke Kota Bandung pun menjadi penyebab penurunan penjualan.

“Hasil survei540 pelaku usaha, omzet turun signifikan 10 -25 juta dengan asumsi turun jadi 400 – 1 juta per bulan,” ucapnya lagi.

Sektor UMKM yang paling terdampak per agustus ada sebanyak 6405, terdiri dari 2354 kuliner, 1050 fashion, 500 craft, 787 usaha seperti pedagang sembako, jasa salon dan lainnya.

Rata-rata mereka terdampak 60 -90 persen karena mobilitas terganggu. Sedang merek yang bertahan untuk usaha minuman kesehatan, jamu, atau madu karena semakin banyak yang covid.

“Semakin banyak yang memerlukan minuman kesehatan. mereka naik lebih dari 100%. Fashion dan kraf turun sampai 90%, order yg berkurang, permintaan pasar, penutupan mal, rata-rata yang mengisi produk di mal, dan toko sebagian mal. Dibidang jasa turun 75%, jasa katering dan wedding organizer (WO) turun 100%.

Dinas UMKM sendiri kini melakukan beberapa strategi meningkatkan kembali roda ekonomi dengan cara berikut :

1. Pendampingan secara sistematis produk berkualitas,
2. Pendampingan setiap tahun, dampingannya selama 8 bulan, diharapkan dapat tingkatkan kualitas produk. Peningkatan kemitraan usaha kecil dan menengah.
3. Suply chain, utk produksi distribusi produk tertentu kepada pembeli.

“Banyak pelaku UMKM bidang fashion dari baju muslim beralih buat masker, handsanitizer. UMKM ini banyak memberi kontribusi secara nasional,” tutupnya.(kai)

Berita Terbaru