Jumat, Agustus 5, 2022
spot_img

Popularitas Capres Dimedia Sosial Bisa Jadi Tolak Ukur Pemilih

BerandaKota BandungPopularitas Capres Dimedia Sosial Bisa Jadi Tolak Ukur Pemilih

BANDUNG – Penyelengaraan pemilu memang masih jauh tetapi para calon presiden (capres) yang digadang gadang masyarakat rupanya sudah muncul beberapa nama, mulai Gubernur DKI Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK), Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo hingga Menteri Pertahan Prabowo Subianto.

Menilai hal itu, Pakar Pegiat Komunikasi Digital Enda Nasution mengatakan bahwa sebenarnya belum ada calon resmi, semua sedang memposisikan dirinya,  belum ada partai yang mencalonkan secara resmi.

Para calon selain Ganjar dan Prabowo belum memiliki partai. Namun Ganjar, Anies, dan RK dilihat dari elektabilitas paling tinggi dianggap paling pantas menjadi calon presiden dengan alasan saat ini ketiganya sebagai pemimpin kepala daerah atau gubernur di provinsi terbesar, muda, dan basis masa terbesar.

“PR terbesar bagi calon dan pendukung partai adalah saat ini mereka saling memandang, melihat dan memilih, begitu juga bagi capres harus memilih partai mana yang dukung termasuk pasangannya nanti koalisi koalisi ini,” jelas pria lulusan ITB ini usai menghadiri donor darah Ikasma 3 Bandung, Minggu (27/2/2022).

Enda menyampaikan untuk Ganjar sampai hari ini oleh PDIP belum tahu dicalonkan atau tidak karena ada Puan Maharani.

“Sekarang tanggung, belum ada yang resmi ke gelanggang, semua saling mengukur mempertimbangkan, salah satunya dianggap penting survei elektabilitas dan cara gampangnya membandingkan jumlah audens di medsos, makanya itu kenapa medsos penting,” terangnya.

Enda mencontohkan saat ini follower IG Ridwan Kamil mencapai angka 15 juta, FB nya 3,5 juta, dan Twitter di angka 4,5 juta, sedangkan untuk di IG Ganjar dan Anies, follower mencapai angka 5 jutan. Masyarakat tinggal memilih mana calon presiden yang pantas didukungnya.

“Tentunya banyak faktor, dukungan partai, tidak ada kasus hukum yang sekarang dihembuskan seperti kepada pak ganjar dan pak anies,” terang alumni ITB 94 itu.

Disinggung kepentingan media sosial dan media masa kata Enda menurut dia sebagai pemimpin yang sudah jadi berinteraksi di medsos itu sebenarnya efektif, pasalnya hubungan komunikasi dengan audiensnya bisa terjalin.

“Tetapi dalam hal ini medsos salah satu jadi tolak ukur, kalau ada anggapan followe bjsa beli tapi kan untuk sampai ke level itu gak mudah, kalau bukan pendukung benaran gak mudah,” ungkapnya.

Awal 2004 atau 18 tahun lalu, Enda membuat pertama kali blog pemilu, kala itu tidak ada satu pun capres atau partai yang ada memperhatikan internet. Tapi perlahan mulai berubah. Di tahun 2014 saat Jokowi nyapres mulai bermuncul orang 1 dan 2, saat itu pula mulai orang berantem di sosial, mulai ada hoaks, nyinyir, hingga ujaran kebencian (hate speech).

“Mulai ada kontestasi politik dimana kebetulan generasi muda pengguna internet, sehingga ada perang opini di medsos tanpa melupakan peran media karena apapun disampaikan di medsos sumbernya 70 80 % dari media tapi balik lagi media ambil dari medsos, disiru terjadi ekosistem sendiri ya,” paparnya.

“Dulu hitler terpilih secara demokratis, tapi pandangan politik tidak tergali sehingga merugikan dan merusak. Nah sekarang kita bisa gali, bongkar pilihan kita berpihak kemana, lakukan apa saja, bagaimana visi misinya, jadi tidak hanya di media massa saja tapi gabung medsos,” jelasnya.

Namun demikian lanjut Enda, harus jadi pengingat atau warning bagi pengguna media sosial agar lebih bijak. Pasalnya jika dimedia massa ada kode etik, penanggungjawab dan sebagainya. Tetapi di medsos bisa manipulasi, tapi tidak ada kode etik atau penanggungjawab, makanya pemilih harus lebih bijak.

“Dimedsos itu volume besar dan kecepatan medsos pun cukup tinggo, tapi masyarakat sekarang kan lebih pinter,” tutupnya. (kai)

Berita Terbaru