Sabtu, Oktober 1, 2022
spot_img

Ade Supriadi: Dilantik Jadi Wali Kota Bandung, Saatnya Yana Kejar Ketertinggalan

BerandaKota BandungAde Supriadi: Dilantik Jadi Wali Kota Bandung, Saatnya Yana Kejar Ketertinggalan

BANDUNG – Pelantikan Yana Mulyana menjadi Wali Kota Bandung meskipun hanya sekadar prosesi formalitas namun sangat penting. Pasalnya ada sejumlah agenda penting yang harus dijalankan, yang tidak bisa dipenuhi pejabat setingkat Pelaksana Tugas (Plt).

Dari sisi DPRD Kota Bandung, para wakil rakyat ini sangat menunggu penetapan Yana Mulyana sebagai wali kota. Terlebih tahapan telah dilakukan oleh dewan semenjak wafatnya Wali Kota Bandung Oded M. Danial.

Sekarang tongkat kepemimpinan penuh telah dipegang, dan Yana sudah harus segera mengejar ketertinggalan pembangunan setelah ditahan pandemi.

“Patut disyukuri, momentum ini berbarengan dengan angka penyebaran Covid-19 yang semakin mereda. Tidak ada alasan lain selain memaksimalkan daya yang dipercayakan ke seluruh jajaran birokrasi,” ujar Wakil Ketua I DPRD Kota Bandung Ade Supriadi.

Kata Ade ketertinggalan ini tidak hanya diakibatkan pandemi. Sebelumnya, realisasi visi dan misi, janji wali kota, serta capaian RPJMD masih perlu dioptimalkan.

“Kita mengetahui, janji menaikkan dana PIPPK belum terpenuhi. PIPPK ini begitu ditunggu publik karena dijalankan langsung oleh perwakilan mereka di tingkat RW. PIPPK mampu mempercepat pembangunan di tingkat wilayah paling bawah, mengimbangi guliran anggaran dan program yang dikerjakan oleh SKPD,” bebernya.

Visi Bandung Nyaman juga masih banyak yang harus direalisasikan. Selain revitalisasi taman, Kota Bandung masih harus mengejar janji penambahan sejumlah Ruang Terbuka Hijau.

Target Bandung Unggul pun tentu harus segera diterapkan melalui program-program peningkatan dan pemberdayaan masyarakat.

Ada baiknya SDM muda Bandung, dari mulai Karang Taruna hingga komunitas independen terus dilibatkan untuk menjadikan produk dan jasa kreatif khas Bandung yang terunggul di tingkat nasional.

Dari beberapa contoh produk anak Bandung, tidak menutup kemungkinan bisa meraih pasar dunia.

Sama dengan kondisi di kota lainnya, saat ini Kota Bandung tengah giat menggeliat mengejar ketertinggalan setelah diterpa penurunan selama dua tahun pandemi.

Setiap SKPD berjuang agar fungsi layanan bagi masyarakat tetap prima. Walau begitu, tidak semua SKPD mampu mengatur strategi supaya bisa menunjukkan kualitas kerja di tengah keterbatasan anggaran.

“Pertama-tama, tentu saya menunjuk peran Dinas Kesehatan Kota Bandung yang mampu menekan angka fatalitas akibat Covid-19. Angka sebaran juga ikut menurun. Jumlah pasien Covid-19 di rumah sakit bisa tertangani dengan baik.
Populasi yang telah mendapat vaksin juga telah terpenuhi. Tinggal menyasar target vaksin ketiga atau booster,” imbuhnya.

“Sebagai penyerap modal bergulirnya pembangunan, saya juga menaruh apresiasi terhadap kinerja Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Bandung. Pemasukan yang diupayakan dalam beberapa masa terakhir bisa menstabilkan jenis layanan dan pembangunan infrastruktur yang diperlukan,” harapnya.

DPKP3 bersama DPU (SDABM) telah menunjukkan kolaborasi terpuji dengan memaksimalkan lahan milik Pemkot Bandung untuk bersama-sama membangun kolam retensi atau area pengendali banjir.

Lanjutnya, yang perlu disorot salah satunya adalah kinerja Diskominfo. Diskominfo seakan tenggelam setelah sempat menggencarkan wifi gratis, setidaknya di setiap taman.
Keluhan warga muncul saat mereka tidak menemukan akses internet yang dijanjikan gratis itu. Soal ducting pun Pemkot Bandung seolah-olah kewalahan.

Komunikasi dengan salah satu badan usaha milik daerah (BUMD) Kota Bandung, PT Bandung Infra Investama (BII) juga terkesan nihil. Padahal PT BII pernah memiliki rencana kerja untuk mengerjakan ducting dengan bantuan investasi.

PT BII juga harus didesak oleh Yana agar segera memacu mesin perusahaannya. Penyertaan modal terus diberikan tetapi pemasukan bagi Pemkot Bandung tidak sebanding.

“PT BII juga punya janji membangun hunian bagi publik Bandung serta mewujudkan transportasi massal sekelas MRT dan LRT. BUMD lainnya akan menjadi indikator kemajuan Kota Bandung di bawah komando Yana. Perumda Pasar Juara belum memperlihatkan geliat revitalisasi pasar yang sering digaungkan,” ungkapnya.

Perumda Tirtawening pun lanjut Ade, masih kewalahan memenuhi layanan air bersih masyarakat. Dengan penyertaan modal yang tidak sedikit, pengelolaan layanan air Tirtawening seperti sulit dilirik investor. Padahal investasi bisa menambah daya Tirtawening untuk meningkatkan layanan air minum publik dengan kualitas terbaik.

“Kami di dewan tentu menunggu inovasi dan terobosan yang bakal diberikan Yana bagi warga Kota Bandung, karena waktu yang tersisa hanya tersisa setahun lagi. Semoga setiap langkah kita dilancarkan Allah, Aamiin,”tutupnya.(ad/red)

Berita Terbaru