Sabtu, Oktober 1, 2022
spot_img

Kasus PMK Belum Ada Di Kota Bandung

BerandaKota BandungKasus PMK Belum Ada Di Kota Bandung

BANDUNG – Merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak, pemerintah Kota (Pemkot) Bandung berrencana akan lebih memperketat jalur masuk hewan ternak dari wilayah yang terkena penyakit tersebut.

Namun masyarakat diminta melaporkan kepada instansi terkait jika menemukan hewan ternak yang terkena penyakit tersebut.

Wali Kota Bandung, Yana Mulyana meminta aparat kepolisian dan dinas terkait untuk mengawasi jalur masuk hewan ternak.

Ia juga meminta masyarakat tidak mengonsumsi hewan ternak yang terkena penyakit tersebut.

“Kami minta teman dari Dinas Pertanian dan Peternakan untuk mengawasi jalur masuk suplai dari daerah-daerah yang memang terkena penyakit mulut dan kuku ternak. Meskipun secara teori, tidak menular ke manusia,” ujarnya di Pendopo Kota Bandung, Kamis 12 Mei 2022.

Meski demikian, jika hewan ternak yang terjangkit penyakit kuku dan mulut dimakan dikhawatirkan berpengaruh negatif.

Yana menambahkan, masyarakat pun diminta segera melaporkan apabila menemukan hewan ternak yang terjangkit penyakit itu.

“Intinya mari kita awasi penyebarannya supaya tidak masuk sampai ke Bandung. Kita harus hati-hati lebih ketat,” tuturnya.

Ditempat lain Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung Gin Gin Ginanjar, mengatakan di kota Bandung belum ditemukan PMK.

“Kalau di Bandung sejauh ini masih aman,” ujar Gin Gin.

Menurut Gin Gin sejak penyakit ini muncul pertama kali, pihaknya langsung melakukan konsolidasi kepada peternak agar melakukan pencegahan dan memberikan edukasi.

“Dari hari pertama masuk kerja kami sudah langsung terjun ke lapangan. Para peternak membeli sapi sudah dari jauh-jauh hari sebelum muncul penyakit ini. Kan membesarkan sapi itu butuh waktu 3-4 bulan. Jadi mereka sudah membeli dari awal April, sedangkan penyakit ini muncul pada Akhir April,” tegasnya.

Untuk itu, yang harus diwaspadai adalah hewan yang masuk dari luar kota. Apalagi datang dari daerah yang terjadi pada endemi, seperti Jawa Timur.

“Makanya, berdasarkan surat edaran dari pemerintah provinsi, untuk sementara tidak ada pengiriman hewan ternak dari luar kota,” tuturnya.

Gin Gin menerangkan, kekhawatiran justru timbul jika kondisi masih belum membaik saat menjelang Idul Adha.

“Kami khawatir ketika Idul Adha akan kesulitan mendapatkan Sapi untuk hewan kurban,” jelasnya.

Penyakit mulut dan kuku ini, lanjut Gin Gin menyerang hewan berkuku genap, seperti sapi, kerbau, rusa, kambing dan sebagainya. Penyakit ini tidak menular kepada manusia, namun manusia bisa menukarkan penyakit ini.

“Misalnya ada dokter yang bersentuhan dengan sapi yang diterkena penyakit. Lalu dokter tersebut memegang hewan lain, nah itu bisa menukarkan,” paparnya.

Ciri dari hewan yang terkena penyakit ini, adalah banyaknya produksi lendir pada mulut dan lidah. Adanya bercak merah pada kulit dan demam hingga 40 derajat celcius.

“Tapi karena sekarang belum ada anti virusnya, maka yang bisa dilakukan adalah mengobati gejala. Seperti jika demam, maka disembuhkan duku demamnya. Jika ada hewan yang terkena penyakit ini, maka harus dipisahkan,” bebernya.(kai)

 

 

Berita Terbaru