Rabu, September 28, 2022
spot_img

Achmad Nugraha Sayangkan Keterlambatan Penanganan Pasien di RSHS

BerandaParlemen & PolitikAchmad Nugraha Sayangkan Keterlambatan Penanganan Pasien di RSHS

BANDUNG – Peristiwa meninggalnya warga Kota Bandung akibat terlambatnya tindakan medis di RSHS disayangkan sejumlah pihak.

Diantaranya Wakil Ketua DPRD Kota Bandung Achmad Nugraha sangat menyayangkan kejadian tersebut. Menurutnya rumah sakit sebagus dan selengkap itu tapi segi pelayanan tindakannya seperti itu.

“Untuk mengetahui kejadiannya DPRD dan pemerintah Kota Bandung sudah seharusnya mengkomunikasikan penyebab kelalaian ini,” ujar Achmad.

Kata Achmad, meskipun RSHS kewenangan pemerintah Pusat, namun posisinya berada di Kota Bandung. Terlebih yang menjadi ‘Korban’ adalah warga Kota Bandung.

“Sebagai pimpinan di Kota Bandung, sangat memungkinkan jika meminta keterangan dan mendengarkan penjelasan dari pihak RSHS, karena warga yang menjadi ‘korban’ adalah warga kita. Bahkan kita sangat berhak melakukan itu,” terang Achmad.

Jika pihak rumah sakit tidak memenuhi undangan ini, maka Achmad mengatakan pihaknya akan mendatangi rumah sakit.

“Ini konteksnya mencari tahu, bukan menyalahkan. Dan hal itu sah-sah saja untuk mendapatkan klarifikasi dari kedua belah pihak,” lanjut Achmad.

Secara pribadi, Achmad merasa heran kenapa sampai tidak ada tindakan dari pihak rumah sakit. Mengingat pasien sudah bolak balik ke rumah sakit sejak sembilan bulan yang lalu.

“Makanya kami harus melakukan klarifikasi dan mendapat penjelasan dari pihak rumah sakit. Karena terlalu banyak berita yang simpang siur di masyarakat,” tegasnya.

Achmad mengakui, meski memang ada beberapa rumah sakit yang sudah maksimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, namun masih ada saja rumah sakit yang lalai memberikan pelayanan, terutama kepada pasien BPJS.

“Ada beberapa rumah sakit yang mewajibkan pasiennya melengkapi persyaratan BPJS sebelum dilakukan tindakan. Namun harus kita akui, ada juga rumah sakit yang mau melayani pasien dan administrasi bisa menyusul,” tambahnya.

Untuk rumah sakit yang sudah menjalankan tupoksinya dengan benar, Achmad menyampaikan rasa terimaksih dan apresiasinya.

Namun, bagi rumah sakit yang masih belum memberikan pelayanan dengan benar, Achmad kembalil mengingatkan, bahwa memberikan pelayanan kepada masyarakat merupakan tugas rumah sakit.

“Bahkan, seharusnya rumah sakit bisa memberikan pendidikan dan pengetahuan tentang kesehatan baik secara umum, maupun secara khusus bedasarkan kasus penyakit yang dideritanya,” imbuhnya.

Disinggung mengapa masih ada rumah sakit yang belum memberikan pelayanan kepada masyarakat, Achmad mengatakan, sebenarnya untuk kepala rumah sakit sudah mendapat pengetahuan dan sudah ditekankan berkali-kali.

“Namun, yang kemudian harus dilakukan adalah, bagaimana dirut di rumah sakit yang besangkutan memberikan penekanan juga kepada stafnya. Sehingga dari level direktur sampai staf ke bawah memiliki pemahaman dan tanggungjawab yang sama,” paparnya.

Achmad sendiri mengaku masih ada laporan terkait pelayanan dari rumah sakit kepada pasien BPJS. Namun memang terkadang sulit dibuktikan.

“Karenanya kami meminta Dinkes (dinas Kesehatan,red) untuk lebih fokus dalam penekanan pelayanan kepada pasien BPJS, baik itu pasien BPJS yang didanai APBN, ABPD dan BPJS mandiri,” tegasnya.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu, salah seorang warga Kota Bandung, Asih Sekarningsih (34) meninggal karena terlambat ditangani pihak rumah sakit.

Asih divonis kanker kulit stadium akhir dan mendapat penanganan yang kurang maksimal saat berobat ke Rumah Sakit Hasan Sadikin.

Pada Rabu (18/05/2022) Asih dibawa ke rumah sakit, namun perlu tiga kali laporan untuk bisa ditangani. Suami korban sendiri sudah berkali-kali melaporkan ke ruang suster, bahwa istrinya kritis namun tidak ada tindakan.

Pihak rumah sakit baru merespon setelah korban meninggal dan sang suami marah-marah. Jauh sebelum divonis menderita kanker kulit, almarhum Asih awalnya terluka akibat tak sengaja menginjak paku payung sekitar Oktober 2021 silam.

Luka di kaki Asih dirawatnya sendiri. Alih-alih membaik, dalam kurun waktu tiga bulan, luka di kaki Asih justru menjalar sampai ke daerah lutut, bahkan sampai ke paru-paru. Sebelum akhirnya ke RSHS, korban sempat bolak balik ke puskesmas kemudian dirujuk ke RS Santo Yusuf. Disana Asih mendapatkan operasi ringan untuk kemudian dirujuk ke RSHS.(ad/red)

Berita Terbaru