Jumat, Agustus 5, 2022
spot_img

Rumah Sakit Didorong Gunakan Alkes Buatan Lokal

BerandaKota BandungRumah Sakit Didorong Gunakan Alkes Buatan Lokal

BANDUNG – Dimasa pandemi covid-19 hampir 3 tahun ini alat kesehatan (alkes) menjadi isu utama masyarakat Indonesia dan dunia, seperti diketahui awal covid kebutuhan masker, jarum suntik, alat pelindung diri (APD) hingga oksigen sangat terbatas bahkan langka.

Namun sayang kalaupun ada kebanyakan alkes didatangkan dari luar terutama yang masuk secara ilegal, abal abal dan tidak sesuai standar kesehatan, alhasil selain negara dan rumah sakit dirugikan, pasien pun terpaksa menerima dampaknya.

Dan untuk menghindari hal serupa kedepannya serta bertepatan dengan Instruksi Presiden (Inpres) no 2 tahun 2022 bahwa warga Indonesia harus mulai menggunakan dan bangga produk dalam negeri. Maka itu para produsen alkes dalam negeri kini mulai meningkatkan produksinya.

“Sebelum masa pandemi produksi masker itu hanya 20 perusahaan dan produksi APD 6 perusahaan, sekarang ada 200 an, dan market ini  membeli menyerap sehingga produksi meningkat,” jelas Sekertaris Jendral Perkumpulan Organisasi Perusahaan Alat Alat Kesehatan dan  Laboratorium (Gakeslab) Indonesia Randy H Teguh di pemeran dan seminar produk alat kesehatan dalam negeri, di Grand Ballroom Sudirman, Rabu (13/6/2022).

Disinggung harga alat kesehatan dari luar cenderung lebih murah dan berkualitas, Ketua Gakeslab Sugihadi menyampaikan bahwa hal itu relatif, harga bisa lebih murah dari luar terutama negara China karena produksi dari sana dilakukan secara masal.

“Saya fikir soal ijin normal norml aja ya, tidak mudah tidak sulit juga, pemerintah sudah beri arahan perijinan dipermudah tapi ada tahapan tahapan yang harus dilalui ya. Produksi china itu masal ya lebih banyak item yang dibuat maka produk lebih murah, kamibsendiri harus perlahan lahan agar tidak terlalu mahal,” jelas Sugihadi, aerayq menambahkan saat ini Indonesia sudah mampu mengeksport tempat tidur pasien ke negera Jepang, selain itu jarum suntik dan APD.

Terkait mutu sendiri kata Sugihadi sudah ada filter tersendiri untuk ijin edar alkes yang harus memenuhi standar mutu dan jika tidak terpenuhi maka tidak akan ada ijin edar.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Nina Susana Dewi mengaku sangat mendukung kebijakan pemerintah inpres tersebut.

“Kami mendorong untuk meningkatkan mempercepat penggunaan produk dalam negeri ini. Ternyata alkes kita ini produsennya disini, hanya saja kurang terinformasi kan, saya lihat di pameran ini produsen di kita buat alat suntik dan sebagainya tidak kalah dengan produk luar. Makanya saya minta ini dimeriahkan karena kalau mutu bagus pemanfaatan lebih ok produksi meningkat,” jelasnya.

Inpres tersebut lanjutnya sudah ditindak lanjuti oleh Gubernur,  sehingga pengadaan barang yang akan digunakan sendiri sudah ada intruksi agar meningkatkan pemilihan sebanyak 25 persen.

“Memang ada produk yang canggih dsn mahal belum bisa diproduksi di negeri seperti MR, CT Scan, ya ini transisi ya tapi  minimal target 25 persen penggunaan barang lokal terpenuhi,” tandasnya. (kai)

Berita Terbaru