Minggu, Oktober 2, 2022
spot_img

Mulyadi: Kerjanya memasang infus dan menjaga cairan infus tak berhenti agar sang pasien tidak mati

BerandaKota BandungMulyadi: Kerjanya memasang infus dan menjaga cairan infus tak berhenti agar sang...

BANDUNG – Pembangunan bandara Kertajati di Majalengka menghabiskan dana triliunan rupiah dari APBD Provinsi Jawa Barat, sayangnya hingga kini belum memperlihatkan progres operasional sesuai harapan atau belum menampakkan hasil yang signifikan.

Karenanya PT BIJB diminta menggaet investor dan membuka selebar-lebarnya kerjasama dengan pelaku bisnis, agar kondisi keuangan membaik.

Demikian disampaikan pada diskusi seri pertama soal Bandara Kertajati diinisiasi Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jabar dan Kadin Jabar, Jumat, 9 Septermber 2022.

Asda Ekbang Setda Jabar Taufiq Budi Santoso, mengatakan, kondisi itu disebabkan banyak hal.

“Aksesabilitas Tol Cisumdawu yang belum selesai, dampak pandemi Covid-19 yang mengganggu seluruh sendi ekonomi, Bandara Husein yang masih beroperasi, harga avtur di Kertajati yang lebih tinggi ketimbang di Bandara Cengkareng, dan lain sebagainya,” ujar mantan Kepala Bappeda Jabar itu.

Dirut PT BIJB Muhammad Singgih, mengungkapkan, dibandingkan tahun lalu, progres tahun 2022 sudah jauh lebih baik.

Disebutkannya, cargo sudah naik 4.000%. Lalu, di awal tahun sudah kontrak dengan perusahaan aircraft maintenance untuk jasa perbaikan pesawat.

“Memang uang yang masuk tahun ini masih kecil, sekitar Rp 900 juta sebulan. Namun, lebih besar ketimbang tahun lalu yang hanya Rp 5 miliar setahun,” kata Singgih.

Harus diakui, lanjutnya, kondisi keuangan masih belum stabil, karena biaya overhead di luar kewajiban bayar utang sekitar Rp 4-5 miliar sebulan.

“Tapi dengan rencana sebagai embarkasi umroh per September ini, lalu terselesaikannya jalan Tol Cisumdawu akhir tahun ini, saya yakin akan jadi prospek yang bagus buat BIJB,” katanya.

Dalam pandangan Anggota Bangar DPR RI Mulyadi, kondisi BIJB saat ini hidup segan mati pun tak mau. Mulyadi menilai, manajemen keuangan BIJB saat ini masih jauh dari kondisi yang sehat.

“Kerjanya memasang infus dan menjaga cairan infus tak berhenti agar sang pasien tidak mati. Penerimaannya baru sebatas proyeksi sementara overhead sudah pasti,” ujarnya politisi Gerindra tersebut.

Mulyadi menyarankan agar BIJB menggandeng investor dan kerjasama dengan para pengusaha yang terkait dengan airlines.

“Saya juga akan kawal anggaran dari pemerintah pusat, serta keberpihakan Kementerian PUPR dan Kemenhub untuk berkomitmen mendukung penuh Kertajati. Karena anggaran kalo ga dikawal, bisa tiba-tiba menghilang,” katanya.

Komentar agak provokatif disampaikan anggota Komisi IV DPRD Jabar Daddy Rohendi.

“Waduk ah istilah wajah terdepan ibukota! Jujur saja saya sedih dana Rp 7 triliun tak sebanding dengan yang dihasilkan. Lihatlah bandara-bandata lain yang dibangun setelah Kertajati, seperti Kualanamu, Ahmad Yani, Kulonprogo. Kita malah jadi terbelakang,” tegasnya.

Diskusi yang akan berlangsung dalam beberapa seri ini, dibuka oleh Ketua JMSI Pusat Teguh Santosa dan Ketua Kadin Jabar Cucu Sutara. Para tamu yang hadir antara lain datang dari biro travel, manajemen Bandara Husein Sastranegara, pimpinan perusahaan cargo, dan pengurus Kadin Jabar. (kai)

 

Berita Terbaru