Minggu, Oktober 2, 2022
spot_img

Daya Beli Menurun, Harga Daging Ayam Tak Stabil

BerandaKota BandungDaya Beli Menurun, Harga Daging Ayam Tak Stabil

BANDUNG – Fluktuasi harga ayam pejantan ataupun boiler saat ini tidak menentu, kadang naik kadang turun.

Pengusaha peternak ayam dan telor Kota Bandung Wawan Mohamad Usman menyampaikan penyebabnya. Menurut dia

bahwa harga ayam itu tergantung bahan baku pakan yang digunakan dan saat ini kebanyakan produk impor berasal dari Ukraina dan Rusia.

“Bahan baku ayam terutama pakan ayam itu impor, kenapa masalah peternakan mahal sesuai hukum ekonomi permintaan – penawaran. Dikala penawaran banyak harga turun apabila terbatas cenderung naik,” jelas anggota DPRD Kota Bandung itu ditemui di Cibiru, Kamis (15/9/2022).

Harga telor lanjutnya, pasti naik dibanding kemarin atau dulu. Dimana harga telor sempat hancur atau sampai break event poin. Semua peternak hancur karena dijual ayamnya dan begitu ayam habis otomatis produksi telur berkurang.

“Ayam berkurang karena harga telor jatuh, ayam dijual, produksi tidak ada, nah saat permintaan tinggi otomatis harga naik. Apalagi PKH semua pakai telor dilapangan pakan naik dan turun, nah karena terlalu banyak, suplay jadi terganggua pada bahan baku,” ujarnya.

Saat ini kata Wawan, harga di kandang kisaran Rp 24 ribu di pasar kisaran Rp 27 – Rp 30 ribu.

“Turun sedikit, untuk di Jabar ini impor dari Blitar, untuk ayam boiler situasi ekonomi sekarang turun, daya beli masyarakat berkurang karena orang tidak beli otomatis stok banyak. Banyak peternak kecil gulung tikar otomatis dikuasai perusahan besar peternak,” tuturnya.

“Harga ayam boiler di peternak Rp 18 ribu, di pasar 1 kg daging Rp 20 ribu ke bandar di pasar karena kenaikan BBM jadi Rp 23.500 makanya di pasar kalau beli tidak kurang dari Rp 33 ribu,”pungkasnya.

Melihat situasi kondisi saat ini kata Wawan produktivitas indukan ayam saat ini terlalu over.

“Dalam semester terakhir ini perekonomian nasional turun dampak BBM naik, harga ayam pun tidak stabil. Daya beli kurang karena kepanikkan BBM pengaruhnya 30 persen keseluruhan bahan pokok harus naik, tetapi yang kita waspadai saat ini ekonomi masyarakat lagi kurang bagus,” tegasnya.(kai)

Berita Terbaru